How to Pair Plantronics C720-M Headset Bluetooth with Mobile Phone

I struggled a bit and had not been successful in pairing the Plantronics C720-M headset bluetooth with my Android mobile phone.
The phone (or any other mobile phones) for some reasons just couldn’t detect the headset!

But thankfully I’ve realized the solution:
1. Open this document and use it as your guidance. Enable Bluetooth on the Mobile phone.
2. Disable/turn off Bluetooth on the headset by pressing the “Mobile Talk” button for few seconds until you hear “Bluetooth is off”.
3. Press the “Mobile Talk” button again, not just to turn on Bluetooth, but also to pair it. Keep pressing the button until you hear “Pairing”.
4. Voila, the mobile phone then is able to detect the headset and after few seconds pairing is successful.

My mistake was that I stopped pressing the button when Bluetooth is turned on, while the instruction asked to continue pressing after it until you hear the word “Pairing”. Thanks!

Advertisements

How to save specific pages of a word document?

Let’s say you have 80 pages of a thesis document which consist of 4 Chapters, and you want to save each Chapter to a separate file.
There are multiple ways to achieve this, one of the easiest and reliable way is by using the PDF feature. Here’s how:

  1. Open the document in Microsoft Word (2013)
  2. Fill the  Filename accordingly (for example “Chapter 1”)
  3. Click : File > Save As > Save as type and choose “PDF”
  4. Click : Options in the Save As window
  5. Type in the Page(s) you want, for example to save the Chapter 1 from Page 1 to Page 10
  6. Click OK and Save. You’re done for Chapter 1 file. Repeat the same procedure for the other chapters.

The end result would be PDF files not word document. Hope this helps!

Should I Enroll to a Business Post-Grad class?

Hello, Bonjour, Namaste, Ciao, Halo,
I just passed my thesis defense in September, 2017 and if all goes as expected, I will be graduating from School of Business and Management, ITB Jakarta later this year.

If the question “Should I Take a Business Post-Grad class?” has popped out on your mind, and you are having a doubt, here’s a tip: Do Not Hesitate and Go For IT!

Here’s why:
Essentially we as a human will learn about many things across our entire life. Taking Business classes will introduce you to many wonderful topics and accelerate your learning. It may even force you to go beyond and conquer your comfort zone. You will be smarter; your knowledge will expand; your skill will improve; you will become a better person; your chance to succeed in your future endeavors will be greater.

It will require a process and hard work – of course. It’s natural. Most of the things that are good in life do not come easy. But taking business classes is going to be a great journey, a process that you can enjoy. Not just enjoyable for the study, but it’s going to be an exciting process because in the business class you will also meet other people – students, lecturers – from various professional and academic backgrounds that are different from yours. Such opportunity is not to be missed because you can and should learn from them, tap into their experience, perspectives, and skill set, just as they will learn from you as well. Your social and professional networking will grow, and sometimes you might find collaborative ideas with other students that could shape your future.

Now, there are quite a number of business schools out there. ITB, UGM, UI, Binus, IPMI and others. All claims to have the best quality. Please choose your options wisely. Go ahead and talk to the people that have already taken the classes. For me, the quality of the School would be defined by 4 factors: the Lecturers, the Students, the Supporting Facilities and the Environment. Let me elaborate these factors in more details.

  1. The Lecturers: They consist of the academic lecturers (Professors, PhDs, Doctors) and also guest lecturers! (CEOs, Board of Directors, Commissioners, ex-Ministers and other highly experienced professionals). A good School would be supported by these great people that will enrich our academic/theoretical and professional/real-world knowledge. Furthermore, the teaching method/learning process is also important here. SBM ITB has been using “business case” approach for sometime now, similar to the approach of Harvard Business School.
  2. The Students: A good School would be able to attract high-quality students that are not just good academically, but also have obtained a certain level of position in their career. Some of my friends at SBM ITB are business owners and Senior Management-level.
  3. The Supporting Facilities: This will include a good location, a well-equipped campus with high-speed internet, good audio-video classroom, meeting rooms, Library and others.
  4. The Environment: a good School would also be supported by an excellent network of Alumni, the University institution, and active, vibrant communities. Furthermore, the “campus vibe” is just as important and cannot be underestimated.

Now, if you are wondering whether you should enroll to business school right after graduating from Strata-1, I wouldn’t go against it, but I think it will be very beneficial if you first spend several years to focus in professional career. The personal and professional experience that you will get from your career will enable you to have a better perspective on how business works, what are the business functions, what are the challenges that business is facing, and how business comes up with solutions. You will then be able to leverage on those knowledge when you are studying in the business school with a stronger analytical ability!

Perang Opini di Sosmed – Situ Mau Ikutan?

Hai Sobat – buat kalian yang aktif di sosmed pasti tahu kalau belakangan ini lagi ramai beragam posting, tweet atau instagram yang sedikit banyak ada kaitannya dengan dunia perpolitikan ibukota. Sepertinya kubu-kubuan begini sudah muncul sejak Pilpres 2009 yang lalu, dan terus saja berlangsung sampai sekarang.  Nah akibatnya, terjadilah apa yang sering disebut dengan twitwar, berdebat di timeline facebook, perang komen di instagram dan media sosial lainnya. Kelakuannya sudah seperti pasukan Sparta mau perang 😬😬.

Dalam khazanah bahasa Inggris, debate dan argue itu dua hal yang beda. Debate, menurut Wikipedia, adalah ber-argumen secara formal dan terstruktur. Bahasa yang digunakan mesti logis, fakta nya akurat, dan boleh ditambahkan juga unsur perasaan di dalam penyampaiannya (Iyaaa baper dikit aja boleh deh). Forumnya juga formal. Kalau argue, ini model adu pendapat tapi biasanya (ngga selalu sih) di bumbui dengan rasa marah atau disampaikan dengan intonasi yang meninggi (bahasa verbal).

OK, kita tidak usah larut dalam urusan bahasa. Simpel aja sih, yang namanya perbedaan pendapat itu pasti ada. People will naturally have different opinions. Inilah demokrasi. Semua orang punya hak yang sama untuk berbicara dan mengutarakan pikiran. Kita mesti belajar agar bisa open-minded dan menghargai perbedaan pendapat, meskipun kita ngga setuju sama mereka.

Namun begitu, kita juga mesti bisa bedakan antara yang nama nya fakta dan opini. Fakta itu adalah sesuatu hal, informasi atau keadaan yang sifatnya pasti, benar dan bisa dibuktikan. Sedangkan opini itu adalah pandangan, perasaan, pikiran seseorang mengenai sesuatu hal. Contohnya begini: Gunung Bromo adalah gunung di Jawa Timur yang masih aktif dengan ketinggian 2,329 meter. Informasi tersebut adalah fakta, sedangkan contoh opini: Gunung Bromo adalah gunung yang paling cantik dan unik di Pulau Jawa. Ngeliat gunung Bromo itu persis kaya ngliat mantan, dari jauh aja sudah indah, apalagi kalau di deketin lagi. 😂😂

Sobat pernah dengar yang namanya debat kusir kan? Yaitu debat yang ngga jelas ujung pangkalnya. Masing-masing pihak berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri. Apa gunanya terjerumus di model debat yang beginian. Cuma bikin lelah aja. Di samping itu, kalian juga mesti lihat juga siapa lawan debat nya – apalagi kalau dengan kaum hawa. Debat dengan cewek itu, jangankan untuk menang, mau seri aja susah 😝😝.

Terkadang yang jadi sumber permasalahan bukan perbedaan opininya, melainkan cara penyampaian, baik dalam konteks bahasa yang digunakan maupun intonasi yang bikin orang lain kezel. Kalau mau kita pikirin secara serius, perbedaan ini justru jadi kesempatan buat kita untuk belajar, untuk memahami latar belakang dan pola pikir orang lain. Bisa jadi ada hal-hal baru yang bisa kita dapatkan dengan mendengarkan suara yang berbeda dengan kita. Harapannya adalah, kedua belah pihak bersikap sama, sehingga kita bisa saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Jangan sampai gara-gara perbedaan pandangan dalam politik, agama atau prinsip hidup menjadikan kita kehilangan teman, saudara dan sahabat. Hubungan baik dengan sahabat dan teman-teman kamu itu lebih precious. Lebih baik punya 1000 teman, daripada 1 musuh (asal teman kamu ngga nikung kamu dari belakang). 😠😠

Problemnya adalah, medsos bukan tempat yang paling tepat untuk beradu argumen.  Kenyataannya ngga semua orang siap untuk berdebat secara fair. Pertama, ngga semua orang itu siap dengan data dan fakta. Kedua, kadang logika yang digunakan itu ngga connect bro. Selain itu juga bahasa yang digunakan suka kurang pas, isinya kalau engga celaan, kata-kata sinis dan sindiran. Belum lagi orang yang melakukan cyber bullying – menghalalkan secara cara agar opininya bisa menang. Lalu yang terakhir, ada aja orang yang sengaja mempelintir tulisan kita. Apa yang kita sampaikan diambil sepotong/sebagian atau diluar konteks sehingga makna nya menjadi beda. Tuh jadi ribet khan!

Nah, saran gue sih, woles aja bro. Santai dan kalem. Diskusi, debat, adu argumen, paling enak dilakukan secara face-to-face dengan orang yang sudah kita kenal. Apalagi disambi dengan seruput kopi panas dan pisang goreng. Wuih mantab kan. Oiya, coba disimak 4 point berikut ini yang mungkin bisa bikin kamu lebih bijak dalam mengatasi perbedaan.

Nomor satu yang paling penting itu kita mesti punya prinsip. Jangan bimbang kaya ombak di lautan. Contoh: menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Galau boleh, rapuh mah jangan! 💪💪

Nomor dua, belajar untuk mendengar dan memahami. Kalau bicara, atau menulis, semua orang bisa. Orang yang punya kemampuan untuk mendengar dan memahami itu berarti Emotional Intelligence nya tinggi bro. Kalau kita paham hal-hal yang melatar belakangi seseorang dalam berpikir, kita bisa belajar hal yang baru atau juga bisa memberikan koreksi bila ada fakta atau data yang tidak sesuai.

Nomor tiga, yuk jaga perasaan orang lain. Ngga ada gunanya kita utarakan opini kita ke orang lain kalau dia itu sebenarnya ngga nanya. Khusus untuk kaum hawa, kadang mereka ngga butuh  nasehat bro, butuhnya di berikan kasih sayang, ❤️😋👍.

Nomor empat, jangan baper 😀😀. Ngga usah diambil hati omongan orang bro. Kalau ada komen yang ngga enak, gunakan aja fitur “Hide this post” dan masalah selesai. Kalau kata-kata yang digunakan oleh seseorang itu rasis – gunakan fitur “Report this post”. Kalau perlu, minta tolonglah sama Geisha supaya “Lumpuhkanlah ingatanku” 😅😅 – biar kita lupa sama kata-kata dari orang lain yang menyakitkan itu!

OK – tulisan ini tidak bermaksud menggurui (meskipun kenyataannya memang iya sih!). Semoga bermanfaat.