Should I Enroll to a Business Post-Grad class?

Hello, Bonjour, Namaste, Ciao, Halo,
I just passed my thesis defense in September, 2017 and if all goes as expected, I will be graduating from School of Business and Management, ITB Jakarta later this year.

If the question “Should I Take a Business Post-Grad class?” has popped out on your mind, and you are having a doubt, here’s a tip: Do Not Hesitate and Go For IT!

Here’s why:
Essentially we as a human will learn about many things across our entire life. Taking Business classes will introduce you to many wonderful topics and accelerate your learning. It may even force you to go beyond and conquer your comfort zone. You will be smarter; your knowledge will expand; your skill will improve; you will become a better person; your chance to succeed in your future endeavors will be greater.

It will require a process and hard work – of course. It’s natural. Most of the things that are good in life do not come easy. But taking business classes is going to be a great journey, a process that you can enjoy. Not just enjoyable for the study, but it’s going to be an exciting process because in the business class you will also meet other people – students, lecturers – from various professional and academic backgrounds that are different from yours. Such opportunity is not to be missed because you can and should learn from them, tap into their experience, perspectives, and skill set, just as they will learn from you as well. Your social and professional networking will grow, and sometimes you might find collaborative ideas with other students that could shape your future.

Now, there are quite a number of business schools out there. ITB, UGM, UI, Binus, IPMI and others. All claims to have the best quality. Please choose your options wisely. Go ahead and talk to the people that have already taken the classes. For me, the quality of the School would be defined by 4 factors: the Lecturers, the Students, the Supporting Facilities and the Environment. Let me elaborate these factors in more details.

  1. The Lecturers: They consist of the academic lecturers (Professors, PhDs, Doctors) and also guest lecturers! (CEOs, Board of Directors, Commissioners, ex-Ministers and other highly experienced professionals). A good School would be supported by these great people that will enrich our academic/theoretical and professional/real-world knowledge. Furthermore, the teaching method/learning process is also important here. SBM ITB has been using “business case” approach for sometime now, similar to the approach of Harvard Business School.
  2. The Students: A good School would be able to attract high-quality students that are not just good academically, but also have obtained a certain level of position in their career. Some of my friends at SBM ITB are business owners and Senior Management-level.
  3. The Supporting Facilities: This will include a good location, a well-equipped campus with high-speed internet, good audio-video classroom, meeting rooms, Library and others.
  4. The Environment: a good School would also be supported by an excellent network of Alumni, the University institution, and active, vibrant communities. Furthermore, the “campus vibe” is just as important and cannot be underestimated.

Now, if you are wondering whether you should enroll to business school right after graduating from Strata-1, I wouldn’t go against it, but I think it will be very beneficial if you first spend several years to focus in professional career. The personal and professional experience that you will get from your career will enable you to have a better perspective on how business works, what are the business functions, what are the challenges that business is facing, and how business comes up with solutions. You will then be able to leverage on those knowledge when you are studying in the business school with a stronger analytical ability!

Advertisements

Perang Opini di Sosmed – Situ Mau Ikutan?

Hai Sobat – buat kalian yang aktif di sosmed pasti tahu kalau belakangan ini lagi ramai beragam posting, tweet atau instagram yang sedikit banyak ada kaitannya dengan dunia perpolitikan ibukota. Sepertinya kubu-kubuan begini sudah muncul sejak Pilpres 2009 yang lalu, dan terus saja berlangsung sampai sekarang.  Nah akibatnya, terjadilah apa yang sering disebut dengan twitwar, berdebat di timeline facebook, perang komen di instagram dan media sosial lainnya. Kelakuannya sudah seperti pasukan Sparta mau perang 😬😬.

Dalam khazanah bahasa Inggris, debate dan argue itu dua hal yang beda. Debate, menurut Wikipedia, adalah ber-argumen secara formal dan terstruktur. Bahasa yang digunakan mesti logis, fakta nya akurat, dan boleh ditambahkan juga unsur perasaan di dalam penyampaiannya (Iyaaa baper dikit aja boleh deh). Forumnya juga formal. Kalau argue, ini model adu pendapat tapi biasanya (ngga selalu sih) di bumbui dengan rasa marah atau disampaikan dengan intonasi yang meninggi (bahasa verbal).

OK, kita tidak usah larut dalam urusan bahasa. Simpel aja sih, yang namanya perbedaan pendapat itu pasti ada. People will naturally have different opinions. Inilah demokrasi. Semua orang punya hak yang sama untuk berbicara dan mengutarakan pikiran. Kita mesti belajar agar bisa open-minded dan menghargai perbedaan pendapat, meskipun kita ngga setuju sama mereka.

Namun begitu, kita juga mesti bisa bedakan antara yang nama nya fakta dan opini. Fakta itu adalah sesuatu hal, informasi atau keadaan yang sifatnya pasti, benar dan bisa dibuktikan. Sedangkan opini itu adalah pandangan, perasaan, pikiran seseorang mengenai sesuatu hal. Contohnya begini: Gunung Bromo adalah gunung di Jawa Timur yang masih aktif dengan ketinggian 2,329 meter. Informasi tersebut adalah fakta, sedangkan contoh opini: Gunung Bromo adalah gunung yang paling cantik dan unik di Pulau Jawa. Ngeliat gunung Bromo itu persis kaya ngliat mantan, dari jauh aja sudah indah, apalagi kalau di deketin lagi. 😂😂

Sobat pernah dengar yang namanya debat kusir kan? Yaitu debat yang ngga jelas ujung pangkalnya. Masing-masing pihak berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri. Apa gunanya terjerumus di model debat yang beginian. Cuma bikin lelah aja. Di samping itu, kalian juga mesti lihat juga siapa lawan debat nya – apalagi kalau dengan kaum hawa. Debat dengan cewek itu, jangankan untuk menang, mau seri aja susah 😝😝.

Terkadang yang jadi sumber permasalahan bukan perbedaan opininya, melainkan cara penyampaian, baik dalam konteks bahasa yang digunakan maupun intonasi yang bikin orang lain kezel. Kalau mau kita pikirin secara serius, perbedaan ini justru jadi kesempatan buat kita untuk belajar, untuk memahami latar belakang dan pola pikir orang lain. Bisa jadi ada hal-hal baru yang bisa kita dapatkan dengan mendengarkan suara yang berbeda dengan kita. Harapannya adalah, kedua belah pihak bersikap sama, sehingga kita bisa saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Jangan sampai gara-gara perbedaan pandangan dalam politik, agama atau prinsip hidup menjadikan kita kehilangan teman, saudara dan sahabat. Hubungan baik dengan sahabat dan teman-teman kamu itu lebih precious. Lebih baik punya 1000 teman, daripada 1 musuh (asal teman kamu ngga nikung kamu dari belakang). 😠😠

Problemnya adalah, medsos bukan tempat yang paling tepat untuk beradu argumen.  Kenyataannya ngga semua orang siap untuk berdebat secara fair. Pertama, ngga semua orang itu siap dengan data dan fakta. Kedua, kadang logika yang digunakan itu ngga connect bro. Selain itu juga bahasa yang digunakan suka kurang pas, isinya kalau engga celaan, kata-kata sinis dan sindiran. Belum lagi orang yang melakukan cyber bullying – menghalalkan secara cara agar opininya bisa menang. Lalu yang terakhir, ada aja orang yang sengaja mempelintir tulisan kita. Apa yang kita sampaikan diambil sepotong/sebagian atau diluar konteks sehingga makna nya menjadi beda. Tuh jadi ribet khan!

Nah, saran gue sih, woles aja bro. Santai dan kalem. Diskusi, debat, adu argumen, paling enak dilakukan secara face-to-face dengan orang yang sudah kita kenal. Apalagi disambi dengan seruput kopi panas dan pisang goreng. Wuih mantab kan. Oiya, coba disimak 4 point berikut ini yang mungkin bisa bikin kamu lebih bijak dalam mengatasi perbedaan.

Nomor satu yang paling penting itu kita mesti punya prinsip. Jangan bimbang kaya ombak di lautan. Contoh: menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Galau boleh, rapuh mah jangan! 💪💪

Nomor dua, belajar untuk mendengar dan memahami. Kalau bicara, atau menulis, semua orang bisa. Orang yang punya kemampuan untuk mendengar dan memahami itu berarti Emotional Intelligence nya tinggi bro. Kalau kita paham hal-hal yang melatar belakangi seseorang dalam berpikir, kita bisa belajar hal yang baru atau juga bisa memberikan koreksi bila ada fakta atau data yang tidak sesuai.

Nomor tiga, yuk jaga perasaan orang lain. Ngga ada gunanya kita utarakan opini kita ke orang lain kalau dia itu sebenarnya ngga nanya. Khusus untuk kaum hawa, kadang mereka ngga butuh  nasehat bro, butuhnya di berikan kasih sayang, ❤️😋👍.

Nomor empat, jangan baper 😀😀. Ngga usah diambil hati omongan orang bro. Kalau ada komen yang ngga enak, gunakan aja fitur “Hide this post” dan masalah selesai. Kalau kata-kata yang digunakan oleh seseorang itu rasis – gunakan fitur “Report this post”. Kalau perlu, minta tolonglah sama Geisha supaya “Lumpuhkanlah ingatanku” 😅😅 – biar kita lupa sama kata-kata dari orang lain yang menyakitkan itu!

OK – tulisan ini tidak bermaksud menggurui (meskipun kenyataannya memang iya sih!). Semoga bermanfaat.

Review AC Panasonic 0.5 PK Tipe CS/CU-XN5SKJ (Low Watt)

Sobat – kali ini saya mau share mengenai AC Panasonic Low Watt (320W) tipe CS/CU-XN5SKJ (0.5 PK) yang baru saya beli dari Electronic City beberapa hari yang lalu. AC ini dipasang di kamar tidur berukuran 3 x 4 meter. Harga beli nya berapa? 3,599,000 termasuk pemasangan, pipa 5 meter dan braket.

Kenapa sih pilihnya Panasonic? Jawaban singkatnya, karena saya sudah punya AC Panasonic juga (tipe inverter) dan sejauh ini merasa puas. Kali ini keputusan yang saya buat untuk membeli tidak didasarkan pada data-data yang terlalu teknis tapi lebih kepada pengalaman dan juga unsur feeling – mana yang bisa memberikan value maksimal (antara harga, service, dan kualitas). Apakah Panasonic adalah AC yang paling bagus? Jawabannya adalah tidak. Mari kita simak ulasan yang lebih detail sebagai berikut:

Dari hasil survei toko dan dari informasi online, tampaknya AC terbaik adalah produksi dari Daikin. Saya tidak punya bukti teknis mengenai hal ini, tetapi perlu diakui bahwa AC Daikin memang banyak digunakan di gedung perkantoran dan juga di kalangan industri. Dari sini saya asumsikan bahwa kualitasnya memang diakui oleh para profesional. Sudah bisa di duga, secara harga AC Daikin termasuk yang paling mahal dibanding AC merk-merk lain.

Saya juga memiliki AC Samsung (0.5 PK) dan LG (1 PK – inverter). Keduanya pernah bermasalah. Apakah ini artinya AC dari kedua produsen tersebut jelek? Belum tentu juga 🙂  Saya kira kita bisa mempercayai kualitas dari produsen elektronik yang brand nya sudah kuat namun saat ini saya ingin mempercayakan pada Panasonic.

Setiap produsen AC punya fitur-fitur yang mereka unggulkan, namun sebagian dari fitur tersebut sebetulnya mirip-mirip satu sama lain. Saya sendiri tidak terlalu mau terpengaruh terhadap “jualan kecap” dari Sales, karena saya bisa lakukan perbandingan sendiri. Semua informasi nya sudah tersedia secara online kalau kita mau melakukan perbandingan. Kenapa pilih tipe XN5SKJ? Karena tipe ini:

  • Watt nya lebih rendah dibandingkan tipe Panasonic yang lain yaitu 320 W
  • Menggunakan Refrigeran R32 (ramah lingkungan)
  • Support teknologi ECONAVI (pengaturan suhu secara otomatis)
  • Support Nano-G (pemurnian udara)
  • Support teknologi Ecosmart
  • Outdoor nya sudah support Eco Tough

Kenapa beli di Electronic City? Tentu karena value nya secara keseluruhan adalah yang terbaik. Dari segi harga saya mendapatkan diskon tambahan sehingga AC Panasonic XN5SKJ dijual dengan 3,599,00 sudah termasuk pemasangan, braket, dan pipa AC sepanjang 5 meter. Harga ini diluar kabel listrik dan duct tape. Harga tersebut adalah yang termurah dibanding toko-toko online lainnya. Yang unik adalah, harga tersebut adalah harga toko yang berbeda dengan harga yang tercantum di websitenya Electronic City. Selain itu, kita sudah tahu bahwa Electronic City adalah toko yang punya brand bagus, sehingga kita bisa merasa aman (tidak khawatir ditipu dengan produk rusak), staf pemasangannya resmi dari mereka, after-sales nya juga bisa dipercaya. AC tersebut diantar satu hari setelah pembelian, dan dipasang 2 hari setelah nya (sesuai permintaan saya).

AC ini produksi Indonesia, sedangkan beberapa merk lain dibuat di Malaysia atau Thailand. Ini adalah faktor yang perlu dipertimbangkan namun bagi saya hal tersebut bukan masalah besar. Saya percaya pada kualitas buatan Indonesia, dan juga pepatah yang mengatakan “ada harga, ada rupa”. Barang yang tidak laku, atau kualitasnya buruk, maka harganya akan jatuh atau lebih rendah. Begitupun sebaliknya.

AC XN5SKJ ini bukanlah tipe termurah dari Panasonic untuk 0.5 PK. Masih ada KN5SKJ (Low Watt, Ecosmart dan Eco tough), dan YN5SKJ (paling standard). Harga adalah salah satu point yang jadi pertimbangan, tapi buat saya yang utama adalah overall value-nya.

Okay – bagaimana dengan review dari AC itu sendiri?

Pertama, butuh waktu untuk AC 0.5 PK agar bisa mendinginkan ruangan 3×4 meter. Ini wajar dan memang level dingin serta semburan anginnya berbeda dengan AC 1 PK. Jadi, kalau Sobat ingin AC yang cepat mendinginkan ruangan serta semburan udara dinginnya kuat, maka belilah yang PKnya lebih besar 🙂 Buat saya, 0.5 PK memadai dari segi Watt, harga dan kenyamanan.

Kedua, suara, untuk indoor tidak ada keluhan. Hasil pengukuran Sound-meter menunjukkan 34 dB yang artinya cukup senyap. Suara outdoor nya tidak berisik, namun juga tidak senyap. Hasil pengukuran menunjukkan 60 dB.

Saya akan update artikel ini dalam 3 bulan ke depan untuk memberikan informasi lebih lanjut mengenai kondisi kenyamanan AC Panasonic XN5SJK. Sejauh ini belum mengecewakan. Terimakasih!

Review Belanja di Camera.co.id – Tongsis Tripod Benro MeFoto MK10

Halo Sobat – kali ini saya akan share mengenai pengalaman berbelanja online di Camera.Co.id.  Barang yang saya beli adalah Tongsis Benro MeFoto MK10. Tongsis ini selain terkoneksi dengan bluetooth, juga terintegrasi dengan kaki tripod yang lumayan kokoh. Bentuk bodi nya menurut saya bagus dan tidak terkesan murahan, tidak standar seperti tongsis kebanyakan.

Problemnya adalah, saya membutuhkannya secara cepat (dihari itu juga) namun ternyata sebagian besar Sellers hanya menyediakan pengiriman JNE.

Dari sekian banyak Sellers, saya temukan bahwa tokocamzone – salah satu toko online Kamera yang cukup terkenal – punya stok dan bisa mengirimkan dengan Gojek. Singkat cerita, transaksi saya di tokocamzone terpaksa dibatalkan karena ada problem “kurir” yang sebenarnya kurang jelas alasannya.

Hari sudah sore, dan harapan mulai memudar. Saya coba googling dan saya temukan link online shop Camera.Co.id. Melalui kontak telepon dan WA,  staf Camera.Co.id telah memberikan pelayanan yang sempurna:

  • respons sangat cepat dan semua pertanyaan saya dijawab dengan jelas
  • transaksi juga lancar, invoice selesai dibuat dalam hitungan menit
  • awalnya Camera.co.id tidak bisa melayani pengiriman Gojek (same-day), tapi dengan sigap staf mereka mengupayakan agar tetap bisa terkirim sesuai keinginan saya
  • saya diberikan update secara berkala mengenai kesiapan barang, pengiriman dan juga ketibaan barang di tempat saya
  • harga barangnya kompetitif, sama dengan toko lainnya (yang memang murah)

Secara keseluruhan pengalaman saya belanja online di Camera.co.id sangat baik dan kalau ada kebutuhan lain, saya akan beli di toko online ini kembali.

Berikut ini adalah foto tongsis tersebut dan juga foto dan video yang direkam menggunakan Benro MeFoto MK10.