Perang Opini di Sosmed – Situ Mau Ikutan?

Hai Sobat – buat kalian yang aktif di sosmed pasti tahu kalau belakangan ini lagi ramai beragam posting, tweet atau instagram yang sedikit banyak ada kaitannya dengan dunia perpolitikan ibukota. Sepertinya kubu-kubuan begini sudah muncul sejak Pilpres 2009 yang lalu, dan terus saja berlangsung sampai sekarang.  Nah akibatnya, terjadilah apa yang sering disebut dengan twitwar, berdebat di timeline facebook, perang komen di instagram dan media sosial lainnya. Kelakuannya sudah seperti pasukan Sparta mau perang 😬😬.

Dalam khazanah bahasa Inggris, debate dan argue itu dua hal yang beda. Debate, menurut Wikipedia, adalah ber-argumen secara formal dan terstruktur. Bahasa yang digunakan mesti logis, fakta nya akurat, dan boleh ditambahkan juga unsur perasaan di dalam penyampaiannya (Iyaaa baper dikit aja boleh deh). Forumnya juga formal. Kalau argue, ini model adu pendapat tapi biasanya (ngga selalu sih) di bumbui dengan rasa marah atau disampaikan dengan intonasi yang meninggi (bahasa verbal).

OK, kita tidak usah larut dalam urusan bahasa. Simpel aja sih, yang namanya perbedaan pendapat itu pasti ada. People will naturally have different opinions. Inilah demokrasi. Semua orang punya hak yang sama untuk berbicara dan mengutarakan pikiran. Kita mesti belajar agar bisa open-minded dan menghargai perbedaan pendapat, meskipun kita ngga setuju sama mereka.

Namun begitu, kita juga mesti bisa bedakan antara yang nama nya fakta dan opini. Fakta itu adalah sesuatu hal, informasi atau keadaan yang sifatnya pasti, benar dan bisa dibuktikan. Sedangkan opini itu adalah pandangan, perasaan, pikiran seseorang mengenai sesuatu hal. Contohnya begini: Gunung Bromo adalah gunung di Jawa Timur yang masih aktif dengan ketinggian 2,329 meter. Informasi tersebut adalah fakta, sedangkan contoh opini: Gunung Bromo adalah gunung yang paling cantik dan unik di Pulau Jawa. Ngeliat gunung Bromo itu persis kaya ngliat mantan, dari jauh aja sudah indah, apalagi kalau di deketin lagi. 😂😂

Sobat pernah dengar yang namanya debat kusir kan? Yaitu debat yang ngga jelas ujung pangkalnya. Masing-masing pihak berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri. Apa gunanya terjerumus di model debat yang beginian. Cuma bikin lelah aja. Di samping itu, kalian juga mesti lihat juga siapa lawan debat nya – apalagi kalau dengan kaum hawa. Debat dengan cewek itu, jangankan untuk menang, mau seri aja susah 😝😝.

Terkadang yang jadi sumber permasalahan bukan perbedaan opininya, melainkan cara penyampaian, baik dalam konteks bahasa yang digunakan maupun intonasi yang bikin orang lain kezel. Kalau mau kita pikirin secara serius, perbedaan ini justru jadi kesempatan buat kita untuk belajar, untuk memahami latar belakang dan pola pikir orang lain. Bisa jadi ada hal-hal baru yang bisa kita dapatkan dengan mendengarkan suara yang berbeda dengan kita. Harapannya adalah, kedua belah pihak bersikap sama, sehingga kita bisa saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Jangan sampai gara-gara perbedaan pandangan dalam politik, agama atau prinsip hidup menjadikan kita kehilangan teman, saudara dan sahabat. Hubungan baik dengan sahabat dan teman-teman kamu itu lebih precious. Lebih baik punya 1000 teman, daripada 1 musuh (asal teman kamu ngga nikung kamu dari belakang). 😠😠

Problemnya adalah, medsos bukan tempat yang paling tepat untuk beradu argumen.  Kenyataannya ngga semua orang siap untuk berdebat secara fair. Pertama, ngga semua orang itu siap dengan data dan fakta. Kedua, kadang logika yang digunakan itu ngga connect bro. Selain itu juga bahasa yang digunakan suka kurang pas, isinya kalau engga celaan, kata-kata sinis dan sindiran. Belum lagi orang yang melakukan cyber bullying – menghalalkan secara cara agar opininya bisa menang. Lalu yang terakhir, ada aja orang yang sengaja mempelintir tulisan kita. Apa yang kita sampaikan diambil sepotong/sebagian atau diluar konteks sehingga makna nya menjadi beda. Tuh jadi ribet khan!

Nah, saran gue sih, woles aja bro. Santai dan kalem. Diskusi, debat, adu argumen, paling enak dilakukan secara face-to-face dengan orang yang sudah kita kenal. Apalagi disambi dengan seruput kopi panas dan pisang goreng. Wuih mantab kan. Oiya, coba disimak 4 point berikut ini yang mungkin bisa bikin kamu lebih bijak dalam mengatasi perbedaan.

Nomor satu yang paling penting itu kita mesti punya prinsip. Jangan bimbang kaya ombak di lautan. Contoh: menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Galau boleh, rapuh mah jangan! 💪💪

Nomor dua, belajar untuk mendengar dan memahami. Kalau bicara, atau menulis, semua orang bisa. Orang yang punya kemampuan untuk mendengar dan memahami itu berarti Emotional Intelligence nya tinggi bro. Kalau kita paham hal-hal yang melatar belakangi seseorang dalam berpikir, kita bisa belajar hal yang baru atau juga bisa memberikan koreksi bila ada fakta atau data yang tidak sesuai.

Nomor tiga, yuk jaga perasaan orang lain. Ngga ada gunanya kita utarakan opini kita ke orang lain kalau dia itu sebenarnya ngga nanya. Khusus untuk kaum hawa, kadang mereka ngga butuh  nasehat bro, butuhnya di berikan kasih sayang, ❤️😋👍.

Nomor empat, jangan baper 😀😀. Ngga usah diambil hati omongan orang bro. Kalau ada komen yang ngga enak, gunakan aja fitur “Hide this post” dan masalah selesai. Kalau kata-kata yang digunakan oleh seseorang itu rasis – gunakan fitur “Report this post”. Kalau perlu, minta tolonglah sama Geisha supaya “Lumpuhkanlah ingatanku” 😅😅 – biar kita lupa sama kata-kata dari orang lain yang menyakitkan itu!

OK – tulisan ini tidak bermaksud menggurui (meskipun kenyataannya memang iya sih!). Semoga bermanfaat.

Advertisements